Sabtu, 06 Juli 2013

MAKALAH ARTIKEL


ARTIKEL

MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Pendidikan Jurnalistik
Dosen Pengampu : M. Rikza Chamami, MSI






Disusun Oleh:
Khafidhoh Luthfiana              (103111119)
Lailatul Hidayah                     (103111120)
Lathifatus Syifa                      (103111121)

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2013
ARTIKEL
I.              PENDAHULUAN
Secara teknik Jurnalistik, artikel adalah salah satu bentuk opini yang terdapat dalam surat kabar atau majalah. Disebut salah satu, karena masih ada bentuk opini lainnya. Analoginnya sederhana. Kalau kita membuka halaman demi halaman surat kabar atau majalah, maka secara umum isinya dapat dikategorikan ke dalam tiga kelompok besar. Kelompok pertama adalah berita (news). Kelompok kedua disebut opini (views). Kelompok ketiga dinamakan iklan (advertising), dalam hal ini artikel masuk kedalam kelompok opini.
Artikel berbeda dengan komentar, jika komentar tulisannya terfokus untuk menanggapi atau mengomentari nuansa atau fenomena dari suatu permasalahan yang terjadi. Sedangkan artikel, penulisannya tidak sekedar mengomentari masalah, tetapi bisa juga mengajukan pandangan, pendapat atau pemikiran lain, baik yang sudah diketahui masyarakat maupun yang belum diketahui. Misalnya, terjadi perkembangan baru, mengenal lebih jauh tentang kehidupan wanita dsb. Bisa juga artikel berisi mengomentari pendapat orang lain yang muncul ditengah- tengah kehidupan masyarakat.
Berikut akan dijelaskan mengenai artikel, jenis-jenis artikel, bahan-bahan artikel dan teknik penulisan artikel.
II.           RUMUSAN MASALAH
A.      Apakah Pengertian Artikel?
B.       Apa Sajakah Jenis-jenis Artikel?
C.       Apa Sajakah Bahan-bahan Artikel?
D.      Bagaimanakah Teknik Penulisan Artikel?

III.        PEMBAHASAN
A.      Pengertian Artikel
Artikel adalah (1) Karya tulis lengkap dalam majalah, surat kabar dan sebagainya. (2) Tulisan non-fiksi, biasanya singkat dan lengkap, seperti berita dan karangan khas (feature) dalam surat kabar atau majalah. Dan (3) Karangan tertulis yang panjangnya tidak tentu, yang bertujuan untuk menyampaikan gagasan dan fakta dengan maksud untuk meyakinkan, mendidik dan menghibur.  Kata artikel didefinisikan sebagai suatu karangan factual  tentang sesuatu soal secara lengkap, misalnya seni, budaya, dan pariwisata,  yang panjangnya tidak tentu, untuk dimuat di surat kabar, majalah, bulletin, dan sebagainya dengan tujuan untuk menyampaikan gagasan dan fakta guna meyakinkan, mendidik, dan menghibur (Mappatoto, 1993). [1]
Menurut kamus lengkap Inggris-Indonesia karangan Prof. Drs. S. Wojowasito dan W.J.S. Poerwodarminto, artikel berarti “karangan”. Sedangkan artikel dalam bahasa Indonesia, menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka, berarti karangan di surat kabar, majalah dan sebagainya. Menurut R.Amak Syarifudin, dosen Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Massa (STIKOSA AWS) Surabaya, artikel adalah suatu tulisan tentang berbagai soal, nilai politik, sosial, ekonomi budaya, teknologi, olahraga, dll.
Artikel Berdasarkan pendapat para pakar dan praktisi tersebut dapat disimpulkan bahwa semua tulisan di surat kabar atau majalah yang bukan berbentuk berita, bisa disebut artikel. Yang membedakan salah satunya adalah letak penguatan artikel tersebut. Jika artikel itu dimuat pada halaman opini disebut artikel umum, bila diletakkan di halaman seni dan hiburan dikatakan essai dan jika dimuat di kolom khusus redaksi diberi nama tajuk rencana dsb.
Menulis artikel berbeda dengan menulis berita. Kalau berita, apa yang ditulisnya itu harus berdasarkan fakta atas kejadian atau peristiwa yang terjadi. Boleh juga penulisan berita ditambah dengan interpretasi, sepanjang itu diperuntukkan bagi penjelasan fakta. Tetapi menulis berita, sama sekali diperbolehkan memasukkan opini. Untuk mewadahi penyampaian opini masyarakata pada surat kabar atau majalah, disediakan kolom khusus yaitu halaman opini. Penulis artikel tidak boleh mengeluarkan pendirian pribadi seperti menulis unek-unek tanpa berdasarkan fakta agar artikel masih dipandang sebagai tulisan berbobot. Biasanya sikap atau pendirian itu dikemukakan sebagai penegasan atas ketidaksetujuan terhadap sesuatu yang sedang dipermasalahkan. Dalam mengemukakan ketidaksetujuan ini biasanya penulis mengkritik hal yang sedang dipermasalahkan itu. Pantangan bagi penulis diantaranya adalah mengemukakan kritik terhadap seseorang secara pribadi. Seharusnya yang dikritik itu perbuatanyya atau keputusannya yang menimbulkan masalah, bukan orangnya, mengemukakan masalah dengan nada permusuhan dan kebencian. Tulisan bernada kebencian terhadap seni dan budaya tertentu dilarang oleh undang-undang sebagai artikel penyebar kebencian.
Secara jelas dapat dijelaskan bahwa artikel jurnalistik berbeda dengan tulisan lainnya. Artikel jurnalistik mengikuti kaidah jurnalisme, struktur tulisannya sama dengan feature yaitu sama-sama dimulai dengan lead yang mempertahankan eye-catching tertentu.  Bedanya artikel menampilkan karakter penulis menggunakan sudut pandang tertentu. Selain itu menurut Nelson artikel ditujukan kepada khalayak tertentu, topic uraiannya tidak bersifat local, bukan hanya mengungkap kasus, trends dan peristiwa tertentu. Namun karena sama-sama produk jurnalistik artikel memola gaya bahasa jurnalistik, bahasanya menurut Rosihan Anwar dalam buku Bahasa Jurnalistik Indonesia dan Komposisi, mesti lancer, jelas, lugas, sederhana, padat, singkat dan menarik namun dengan tetap mengikuti bahasa baku, kaidah bahasa, ejaan benar dan kosa kata dinamis.[2]
Menulis artikel boleh dimulai dengan pemaparan fakta sebagai data dari apa yang akan ditulisnya itu. Dari data yang ada itulah penulis bisa memberikan pendapat, pandangan, gagasan, atau bahkan interpretasi dari fakta yang ada pada data tersebut. [3] Meskipun artikel termasuk dalam kelompok public opinion (opini publik), tetapi penulisnya tidak hanya terdiri dari orang- orang diluar pengelola penerbitan pers. Wartawan, redaksi bahkan pekerja pers lainya yang mampu menulis artikel bisa membuatnya. Hanya saja dalam memberikan pandangan, pendapat atau pemikiran lain, diatasnamakan dirinya sendiri. Itu sebabnya, nama penulisnya selalu ditulis lengkap untuk mempertanggungjawabkan isi tulisannya.[4]
Artikel memiliki beberapa karakteristik yaitu : Ditulis dengan atas nama (By Lines Story), Mengandung gagasan aktual dan atau kontroversial, Gagasan yang diangkat harus menyangkut kepentingan sebagian terbesar khalayak pembaca, Ditulis secara referensial dengan visi intelektual, disajikan dalam bahasa yang hidup, segar, populer, dan komunikatif, Singkat dan tuntas dan Orisinal.
B.       Jenis-jenis Artikel
Secara umum artikel dapat dibedakan menurut jenis serta tingkat kesulitan yang dihadapi, antara lain :
1.         Artikel Praktis
Artikel praktis, lebih bersifat petunjuk praktis tentang cara melakukan sesuatu (How to do it). Misalnya, petunjuk cara membuka internet. Cara praktis merawat tanaman bonsai. Sepuluh langkah membuat kue tart, kiat ramping dan cantik dalam 15 hari, atau cara cepat menguasai rumus dan hitungan matematika. Artikel praktis lebih menekankan pada aspek ketelitian dan ketrampilan daripada masalah pengamatan dan pengembangan pengetahuan serta analisis peristiwa. Artikel praktis biasanya ditulis dengan menggunakan pola kronologis. Artinya pesen disusun berdasarkan urutan waktu atau tahapan pekerjaan.
2.         Artikel Ringan
Artikel ringan, lazim ditemukan pada rubrik anak- anak, remaja,wanita dan keluarga. Artikel ini lebih banyak mengangkat topik bahasan yang ringan dengan cara penyajiannya yang ringan pula, dalam arti tidak menguras pikiran kita. Untuk menerima atau mencernanya, kita sebagai pembaca tidak memerlukan persiapan dan perhatian khusus. Artikel ringan tak ubahnya makanan mie siap saji atau permen karet yang bisa dikunyah kapan dan dimana saja. Topik bahasan seperti kiat sukses belajar di perguruan tinggi. Benarkah anda tpe orang yang ambisius, sepuuh ciri wanita setia, atau sembilan kelemahan pria dimata wanita, termasuk ke dalam kategori artikel ringan. Siapapun yang membacanya tidak perlu mengerutkan dahi, berpikir lebh keras, menganalisis lebih tajam atau menggugatnya secara akademis. Artikel ringan bisa dibaca secara sekilas di termpat praktik dokter atau di ruang tunggu terminal, stasiun, atau bandara. Artikel ringan dikemas dengan gaya paduan informasi dan hiburan (infotainment)
3.         Artikel halaman Opini
Harap dipahami terlebih dahulu, semua artikel termasuk opini (views). Sifatnya sebagai pandangan subjektif. Jika berbeda dengan berita (news) sebagai fakta objektif, jika memang demikian, mengapa harus ada yang diberi nama artikel halaman opini? Penamaan artikel halaman opini dimaksudkan terutama untuk memudahkan kita dalam mengenali jenis- jenis artikel yang terdapat dalam surat kabar, tabloit, atau majalah. Selain itu untuk mengenali karakteristik isinya, cara pendekatannya, dan topik- topik yang dikupasnya. Sebagai contoh, artikel yang membahas cara cepat mengatasi jerawat, tidak akan ditemukan di halamn opini.
Artikel opini lazim ditemukan pada halaman khusus opini brsama tulisan opini yang lain yakni tajuk rencana, karikatur, pojok, kolom, dan surat pembaca. Artikel opini mengupas suatu masalah secara serius dan tuntas dengan merujuk pada pendekatan analitis. Sifatnya relatif berat, karena itulah artikel opini kerap ditulis oleh mereka ayng memiliki latar belakang pendidikan, pengetahuan, keahlian, atau pengalaman yang memadai.
4.         Artikel Analisis Ahli
Artikel analisis ahli, biasa kita temukan pada halaman muka, halama- halaman berita, atau halaman dan rubrik- rubrik khusus tertentu. Sesuai dengan namanya, artikel jenis ini ditulis oleh ahli pakar di bidangnya dalam bahasa yang populer dan komunikatif. Artikel analisis ahli mengupas secara tajam dan mendalam, Suatu persoalan yang menjadi sorotan dan bahan pembicaraan masyarakat, topik yang diangkat dan dibahas macam- macam, seperti ekonomi, politik, pendidikan, sosial, agama, budaya, industri, IPTEK.
Beberapa surat kabar besar di Indonesia, menyediakan ruangan kusus untuk artikel analisis ahli ini dalam halaman- halaman berita atau halaman- halaman dan rubrik khusus tertentu mereka. Salah satu tujuannya antara lain, mendekatkan permasalahan yang disorot dalam berita sebagai suatu persoalan yang mengandung pertayaan, denagn tinjauan pakar dibidang yang sama yang memberikan penjelasan dan jawaban kepada sidang pembaca. Jadi, kita sebagai pembaca tidak hanya membaca berita ayng memberikan pengetahuan, tetapi sekaligus juga mengikuti jalan pikiran dan temuan pakar yang memberikan panduan dan kesimpulan tentang apa yang seharusnya kita lakukan.[5]
Redaktur media massa biasanya mengelompokkan artikel menjadi beberapa jenis berdasarkan sudut pandang penulis dalam memaparkan ide atau gagasannya. Ada 5 jenis artikel diantaranya :
1.      Eksploratif
Artikel Eksploratif adalah artikel yang mengungkapkan fakta-fakta berdasarkan kajian dari penulisnya. Jenis artikel ini cocok untuk menguraikan penemuan-penemuan baru, misalnya seorang menemukan benda-benda antik peninggalan zaman purba. Penulis artikel kemudian menelusuri sejarah barang yang ditemukan itu dan menguraikannya melalui suatu tulisan artikel.
2.      Eksplanatif
Eksplanatif artinya menerangkan. Artikel ini isinya menerangkan sesuatu untuk dapat dipahami pembaca. Misalnya, ketika presiden Abdurrahman Wahid berkeinginan membubarkan parlemen dalam (DPR) dengan sebutan dekrit presiden mengundang berbagai tanggapan dari para pengamat. Penulis artikel yang jeli membuat artikel dengan menerangkan apa sebenarnya dekrit presiden itu dengan bagaimana caranya dan sebagainya.
3.      Deskriptif
Deskriptif adalah artikel yang menggambarkan suatu permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat, sehingga dapat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Jenis artikel ini nmirip dengan laporan atau reportase, bedanya jika laporan atau reportase hanya berdasarkan fakta saja, tetapi artikel penulisnya bisa memasukkan opini untuk memperjelas masalah yang digambarkan itu. Misalnya ketika terjadi bentrok antara mahasiswa dengan aparat keamanan dalam peristiwa semanggi di Jakarta, seorang penulis yang kebetulan melihat secara langsung dalam peristiwa itu lantas menggambarkan keadaan yang sesungguhnya dari peristiwa itu, dalam satu bentuk artikel.
4.      Prediktif
Adalah artikel yang berisi perhitungan atau ramalan apa yang akan terjadi di kemudian hari berdasarkan perhitungan penulisnya. Misalnya, ketika Bank Indonesia memutuskan menaikkan suku bungan deposito, seorang pemngamat ekonomi memperkirakan atau memprediksikan kelak kemudian hari bakal banyak deposan (orang-orang yang mempunyai simpanan deposito) memindahkan uangnya ke luar negeri. Akibatnya modal dalam negeri banyak yang parker di luar negeri.
5.      Preskriptif
Adalah artikel yang memberikan tuntutan kepada pembacanya untuk melakukan sesuatu sehingga tidak mengalami kekeliruan atau kesalahan. Misalnya artikel tentang bagaimana caranya mengurus paspor, KTP, atau SIM tanpa melalui perantara. Penjelasan detail yang sifatnya menuntun pembaca sangat diperlukan.[6]
Pada praktiknya, di media massa cetak kita sering sulit menemukan atau membedakan mana artikel yang murni, deskriptif atau prediktif. Pada umumnya, tulisan yang bertebaran di media massa cetak merupakan jenis artikel atau tulisan “gabungan” dari jenis-jenis diatas. Untuk itu terdapat kategori lain yaitu :
a.       Artikel Informatif yakni tulisan yang berisi informasi tentang suatu masalah atau peristiwa.
b.      Artikel Persuatif yakni tulisan yang berisi ajakan, himbauan, atau perintah kepada pembaca.
c.       Artikel Rekreatif yakni aktikel yang bermaksud menghibur pembaca dengan sebuah masalah atau peristiwa yang mengandung kelucuan.[7]

C.    Bahan-bahan Artikel
Bahan-bahan artikel meliputi buku, tulisan, atau kliping Koran tentang masalah yang akan ditulis, disinilah pentingnya memiliki perpustakaan pribadi atau kliping Koran/majalah. Bahan juga bisa diambil dengan mencari referensi dengan mudah melalui internet. Gunakan saja fasilitas search engine yang bisa menyajikan secara cepat dan lengkap.[8]
Bagi seorang penulis, tidak ada istilah kekeringan atau kehabisan ide. Ide ada dimana saja dan bisa dicari atau ditemukan kapan saja serta oleh siapa saja. Syaratnya tentu saja kita bersikap kreatif. Kalau itu tidak datang sendiri, maka kita harus mengundangnya supaya bisa datang, Menurut Prof. Wayne N. Thompson dalam Fundamentals of Communication (1957) seperti dikutip Rakhmat (1992: 20-21), sember ide yang kemudian diangkat menjadi sumber topic dapat dilacak antara lain : Pengalaman Pribadi, Hobi atau ketrampilan, Pengalaman pekerjaan atau profesi, pelajaran sekolah, kuliah, penataran atau pelatihan, Pendapat dan hasil pengamatan pribadi, Peristiwa actual, Peristiwa yang bakal terjadi, Masalah abadi , Masalah masyarakat yang belum selesai dan Kejadian khusus dan minat khalayak ramai.[9]

D.    Teknik Penulisan Artikel
Sebelum menulis artikel ada beberapa tahap yang harus dilaksanakan meliputi :
1.      Persiapan Penulisan
Pada tahap ini kita harus menyiapkan beberapa hal, antara lain :
a.       Aspek administratif, menyiapkan hal-hal yang sifatnya administratif seperti mesin tik, pita mesin tik, komputer, tinta, pensil, stabilo dan sumber-sumber rujukan yang diperlukan seperti buku, surat kabar, majalah, jurnl, kliping berita, kliping artikel.
b.      Aspek teknis, pastikan peralatan yang kita perlukan berfungsi dengan baik dan tidak ada gangguan apapun, serta kuasai programnya dengan baik.
c.       Aspek Akademis, buatlah kerangkan karangan (Outline) sederhana untuk memudahkan kita menulis sekaligus menghindari tumpang tindih bahasan. Setelah itu kita harus menyiapkan daftar referensi dan sumber rujukan.
d.      Aspek Psikologis, jangan pernah menganggap menulis adalah perbuatan yang memberatkan atau menjengkelkan. Karena itu buatlah suasana menulis menjadi menyenangkan. Kalau kita merasa asyik dan nikmat menulis ditemani musik maka siapkan dan putarlah kaset atau CD musik-musik pilihan kesukaan kita. Secara psikologis, musik bisa membuat hati kita ceria, penuh gairah, terinspirasi dan termotivasi, dll.
2.      Pelaksanaan Penulisan
Pada tahap ini, kita hars memusatkan perhatian hanya kepada tulisan dan menghindari gangguan yang bisa membatalkan aktifitas kreatif kita. Dengan berpedoman pada kerangka yang sudah kita buat, disertai daftar referensi yang sudah kita susun. Maka pekerjaan kita hanya satu menulis dan terus menulis. Jangan lagi menengok ke kiri dan ke kanan, jangan hiraukan gangguan yang bisa membatalkan aktvitas menulis kita, misalnya bunyi dering telepon.
3.      Perbaikan Materi Penulisan
a.       Revisi judul, baca dan periksa kembali judul artikel yang sebelumnya kita beri status sementara. Pikirkan dan putuskan apakah judul sementara itu akan kita ubah statusnya menjadi judul permanen, ataukah harus diutak-atik kembali. Diubah atau diganti sehingga menjadi lebih baik dan memiliki nilai judul tinggi. Lihat kembali syarat judul artikel yang baik.
b.      Revisi intro, intro artikel yang baik cukup tiga paragraf.  pastikan intro yang kita tulis sudah memnuhi syarat: ringkas, jelas,menarik, dan ditulis dalam bahasa jurnalistik
c.       Revisi Komposisi, artikel yang baik harus tunduk pada hukum komposisi. Sekali keluar dari hukum komposisi maka artikel yang kita buat tak ubahnya permainan sirkus (kepala dibuat kaki, kaki dijadikan kepala).
d.      Revisi akurasi dan Relevansi Data, telitilah dalam mengutip nama orang, jabatan, pangkat, kedudukan, angka, alamat, tanggal bulan, tahun. Jangan sampai muncul tudinagn kita sebagai penulis roboh.
e.       Revisi Ejaan dan Istilah Teknis, ganti istilah teknis dengan istilah yang dipahami umum. Agar bisa dibaca, dimengerti dan dipahami oleh pembaca.
f.       Revisi Gramatika, jangan menganggap kecil masalah tata bahasa, struktur kalimat, paragraf, kata, ejaan karena itu merupakan salah dosa besar dalam dunia jurnalistik.
g.      Revisi Bobot dan Substansi Materi Tulisan, kita menulis tidak hanya sekedar memberitahu, meyakinkan, membujuk atau mempengaruhi dan menghibur mereka. Kira menulis juga sekaligus untuk menunjukkan kapasitas dan kredibilitas kita. Kita layak menulis suatu topik karena memang pokok bahasan iu, sesuai dengan disiplin ilmu kita, pengetahuan kita, keahlian kita atau bidang pengalaman kita.
h.      Asumsi dampak yang diharapkan, kita selayaknya membuat peta asumsi dampak yan g diharapkan terhadap dan dari khalayak pembaca. Apapun asumsi dampak yang muncul, kapasitas dan kredibilitas kita sebagai penulis jangan sampai menyusut apalagi sampai dipersoalkan dan dilecehkan.[10]
                      Teknik menulis artikel sebagai berikut :
1.      Menyusun Kerangka
Langkah pertama menulis artikel menurut Al-Ghifari (2002), setelah menyiapkan topik, terutama bagi pemula adalah menyusun kerangka tulisan yang merupakan penjabaran dari topik. Kerangka-kerangka ini biasanya berupa susunan yang sistematis dari pikiran-pikiran utama dan pikiran penjelas yang akan menjadi pokok tulisan. Kerangka tulisan berguna untuk mempermudah pembahasan dan mencegah tulisan keluar dari alur atau sasaran pembahasan. Pembuatan kerangka tulisan artikel tidak harus bertele-tele, cukup garis besarnya saja. Namun bagi yang sudah professional, kerangka itu sudah tidak perlu dibuat karena biasanya sudah memahami liku-liku pembuatan dan arah dari artikelnya.
2.      Membuat Judul
Judul harus dibuat pendek, padat dan menarik. Judul merupakan inti dari isi tulisan yang jelas maknanya, maksimal lima kata, kalau bisa lebih pendek lagi. supaya mahir, hendaknya kita sesering mungkin mengamati judul artikel yang dimuat di media massa. Dengan begitu, penulis pemula terbiasa mengamati judul yang padat, indah dan menarik. Judul yang menarik membuat editor atau redaktur opini di media massa memerhatikan dan membaca artikel tersebut.
3.      Membuat Lead
Pendahuluan tulisan yang sering disebut lead umumnya ditempatkan dialenia pertama namun pendahuluan artikel bersifat implicit, tidak perlu ada pendahuluan seperti hendak menulis karya Ilmiah. Artinya, dengan pendahuluan itu, suatu gagasan akan dikembangkan lebih jauh. Kalimat-kalimat dalam pendahuluan sebuah artikel harus mampu menarik minat baca orang untuk terus mengikuti artikel itu. Banyak model membuat pendahuluan, pola itu meruapakan gaya atau cara seseorang penulis merangsang pembaca. Model tersebut antara lain: ringkasan, pernyataan mengejutkan, penggambaran (lukisan), dengan bertanya, kutipan, amanat atau nasihat dan anekdot.[11]
Pada dasarnya terdapat beberapa tahap dalam menulis artikel yaitu :
a.         Menemukan ide
b.        Mencari bahan-bahan referensi untuk mengembangkan ide
c.         Membuat Outline untuk mengorganisasikan paduan antara ide dan referensi sehingga sistematis
d.        Free writing atau menulis bebas berupa penulisan naskah awal (first draft)
e.         Menulis ulang naskah (rewriting) atau revisi tulisan
f.         Menyunting naskah (editing) yakni memperbaiki naskah secara redaksional dan substansial. Dalam tahap ini diperlukan kecermatan sehingga tidak ada substansi yang tidak akurat, tidak factual, dan tidak ada kata atau kalimat yang sulit dipahami.

IV.             KESIMPULAN
Kata artikel didefinisikan sebagai suatu karangan factual  tentang sesuatu soal secara lengkap, misalnya seni, budaya, dan pariwisata,  yang panjangnya tidak tentu, untuk dimuat di surat kabar, majalah, bulletin, dan sebagainya dengan tujuan untuk menyampaikan gagasan dan fakta guna meyakinkan, mendidik, dan menghibur. Secara jelas dapat dijelaskan bahwa artikel jurnalistik berbeda dengan tulisan lainnya.
Secara umum artikel dapat dibedakan menurut jenis serta tingkat kesulitan yang dihadapi, antara lain : Artikel Praktis, artikel ringan, artikel halaman opini, dan analisis Ahli. Jenis-jenis artrikel yaitu: Eksploratif, Eksplanatif, Deskriptif, Prediktif , Preskriptif. Selain itu terdapat kategori lain yaitu : Artikel Informatif, Artikel Persuatif, Artikel Rekreatif.
Bahan-bahan artikel meliputi buku, tulisan, atau kliping Koran tentang masalah yang akan ditulis, disinilah pentingnya memiliki perpustakaan pribadi atau kliping Koran/majalah. Bahan juga bisa diambil dengan mencari referensi dengan mudah melalui internet. Gunakan saja fasilitas search engine yang bisa menyajikan secara cepat dan lengkap.
Teknik menulis Artikel : Menyusun Kerangka, Membuat Judul, dan membuat Lead. Pada dasarnya terdapat beberapa tahap dalam menulis artikel yaitu : Menemukan ide, Mencari bahan-bahan referensi untuk mengembangkan ide, Membuat Outline untuk mengorganisasikan paduan antara ide dan referensi sehingga sistematis, Free writing atau menulis bebas berupa penulisan naskah awal (first draft), Menulis ulang naskah (rewriting) atau revisi tulisan, Menyunting naskah (editing) yakni memperbaiki naskah secara redaksional dan substansial. Dalam tahap ini diperlukan kecermatan sehingga tidak ada substansi yang tidak akurat, tidak factual, dan tidak ada kata atau kalimat yang sulit dipahami.
V.                PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat kami buat, kami menyadari dalam pembuatan makalah ini masih kurang sempurna. Untuk itu, kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat kami harapkan. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.

DAFTAR PUSTAKA

Djuroto, Totok dan Bambang Suprijadi, Menulis Artikel dan Karya Ilmiah, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2009.
Djuroto, Totok, Manajemen Penerbitan Pers,Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 2004.
K, Septiawan Santana, Jurnalisme Kontemporer. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2005.
Mondry, Pemahaman Teori dan Praktik Jurnalistik, Bogor : Ghalia Indonesia, 2008.
Romli, Asep Syamsul M., Jurnalistik Praktis untuk Pemula, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2009.
Sugihastuti, Bahasa Laporan Dan Penelitian, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2007.
Sumandiria, AS. Haris, Menulis Artikel dan Tajuk Rencana : Panduan Praktis Penulis dan Jurnalis professional. Bandung : Simbiosa Rekatama Media, 2004.


[1] Sugihastuti, Bahasa Laporan Dan Penelitian, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2007), hlm. 110
[2] Septiawan Santana K, Jurnalisme Kontemporer, (Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2005), hlm. 50
[3] Totok Djuroto dan Bambang Suprijadi, Menulis Artikel dan Karya Ilmiah, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2009), hlm. 3-6
[4] Totok Djuroto, Manajemen Penerbitan Pers, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 71
[5] Haris Sumadiria, Menulis Artikel dan Tajuk Rencana, (Bandung : Simbiosa Rekatama Media, 2004), hlm. 8-10

[6] Totok Djuroto, Manajemen Penerbitan Pers, hlm. 10-12

[7] Asep Syamsul M. Romli, Jurnalistik Praktis untuk Pemula, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2009), hlm. 49
[8] Asep Syamsul M. Romli, Jurnalistik Praktis untuk Pemula, hlm. 59.
[9] AS. Haris Sumandiria, Menulis Artikel dan Tajuk Rencana : Panduan Praktis Penulis dan Jurnalis professional, hlm. 26-27
[10] Haris Sumadiria, Menulis Artikel dan Tajuk Rencana, hlm. 19-26
[11] Mondry, Pemahaman Teori dan Praktik Jurnalistik, (Bogor : Ghalia Indonesia, 2008), hlm. 210-211

Minggu, 02 Juni 2013

Islam di Era Global (Islam Is Rohmatan Lil 'Alamin)



Judul Buku    : Studi Islam Kontemporer
Penulis            : M. Rikza Chamami, MSI
Penerbit          : PUSTAKA RIZKI PUTRA
Tebal Buku    : 227 Halaman
Cetakan          : Pertama, Desember 2012

Agama Islam berbeda dengan agama-agama lainnya. Islam merupakan agama rohmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam). Tidak hanya untuk kalangan umat muslim saja tetapi non muslim juga ikut merasakan rahmat yang dibawa oleh Islam, hal senada di sampaikan oleh H.A.R Gibb dalam bukunya Whither Islam bahwa “Islam is indeed much more than a system of theology, it is a complete civilization (Islam sesungguhnya lebih dari sekedar sebuah agama adalah suatu peradaban yang sempurna). Dahulu Islam pernah mengukir sejarah dengan berkembangnya keilmuan Islam baik itu di zaman Dinasti Umayyah, Abbasiyah, maupun abad-abad selanjutnya. Islam menyebar ke berbagai wilayah di berbagai belahan dunia seperti India, Filipina, Thailand, Libya, Libanon, Turki, Asia Tengah, Iran, Irak, Afghanistan dan lain sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa eksistensi Umat Muslim memang sudah ada sejak dahulu yang merupakan era kecemerlangan Umat Islam. Namun apa yang terjadi pada Umat Islam saat ini sangat berbeda dengan Islam pada masa dahulu karena kelengahan Umat Islam itu sendiri yang menyebabkan runtuhnya Dinasti Abbasiyah dan sejak saat itulah pusat keilmuan berpindah ke dunia Barat.
Berawal dari topik ini, melalui buku ini, Rikza Chamami mencoba memberi wacana tambahan terkait dengan studi Islam kontemporer. Buku ini terdiri dari 10 bab yakni pada Bab I (Pasang Surut Kebangkitan Kebudayaan dan Keilmuan: Potret Disintegrasi Abbasiyah), Bab II (Kajian Kritis Dialektika Fenomenologi dan Islam), Bab III (Filsafat Matrealisme Karl Mark dan Friederik Engels), Bab IV (Skeptisisme Otentitas Hadits: Kritik Orientalis Ignaz Goldziher), Bab V (Telaah Sosio-Kultural: Manhaj Ahlul Madinah), Bab VI (Postmodernisme: Realitas Filsafat Kontemporer), Bab VII (Potret Metode dan Corak Tafsir Al-Azhar), Bab VIII (Diskursus Metode Hermeneutika Al-Qur’an), Bab IX (Jawa dan Tradisi Islam Penafsiran Historiografi Jawa Mark R Woodward) dan Bab X (Reinterpretasi Profil Peradaban Islam). Bisa disimpulkan bahwa dalam buku ini memuat 4 pembahasan utama yakni Kebangkitan Peradaban Islam, Filsafat, Kajian Keislaman dan Study Kawasan Dunia Islam. Penulis menyarankan bahwa memandang Islam tidak bisa dari satu aspek normative saja, namun harus dilihat dari beberapa aspek yakni aspek normative, historis, filosofis dan rasionalis sehingga tidak akan menimbulkan salah penafsiran.
            Buku ini cocok dibaca oleh para mahasiswa. Isinya sangat berbobot dan layak untuk dijadikan tambahan referensi pengetahuan. Hanya saja bahasanya tidak mudah untuk dipahami dan pembahasan antara bab satu dengan bab lain belum ada kesinambungan, masing-masing bab berdiri sendiri dengan pembahasannya masing-masing.

Minggu, 12 Mei 2013

Anak penjual sandal pun bisa sukses




Anak penjual sandal pun bisa sukses


Kemiskinan tak menghalangi dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Jurnalistik di IAIN Walisongo Semarang untuk sukses. Nama lengkapnya M. Rikza Chamami, lahir di sebuah desa kecil bernama Krandon, Kudus , 20 Maret 1980. Dia lahir dari keluarga miskin yang ada di perkampungan home industry sandal di desa tempatnya lahir. Pekerjaan orang tuanya menjual sandal membuatnya hidup prihatin sejak dulu.
Rikza kecil lahir di tengah tradisi masyarakat yang masih menganut teguh tradisi kuno. Salah satu tradisi yang masih ada saat itu adalah bayi yang lahir bareng dengan netu lahir ibunya harus dibuang dengan maksud agar si anak tidak selalu bertengkar dengan ibunya. Karena tradisi tersebut mau tidak mau orang tuanya membuangnya dengan cara diletakkan di atas ekrak. Beruntung Rikza ditemukan oleh Saudah (neneknya). Secara tradisi hak asuhpun jatuh ke tangan neneknya walaupun kenyataannya dia hidup bersama kedua orang tuanya.
Sejak kecil, Rikza banyak mengikuti tradisi-tradisi pedesaan seperti : ngaji, peduli terhadap dolanan tradisional seperti sodor, bentik, dan lain-lain. Dia juga sangat mencintai ilmu, terbukti kemanapun orang tuanya pergi mengaji dia selalu ikut, termasuk sowan ke kyai-kyai yang ada di perkampungannya dan ziaroh ke makam. Tak seperti anak-anak lain di desanya, Rikza sang anak penjual sandal tidak merasa minder walaupun berasal dari keluarga miskin. Satu hal yang tidak pernah ia lupakan adalah orang tuanya mendidiknya dengan prinsip tirakat yakni tidak boleh hidup mewah, sederhana dan peduli terhadap siapapun.
Nasibnya dilahirkan sebagai anak orang miskin membuatnya sadar dan ingin menunjukkan bahwa tidak hanya orang yang punya uang saja yang bisa sukses, iapun bisa sukses dengan semangat dan prinsip yang menjadi pegangannya sejak kecil yaitu “ Miskin boleh tetapi sukses harus, kemiskinan bukan menjadi penghambat kesuksesan.” Slogan ini semestinya menjadi motivasi bagi semuanya bahwa hidup miskin tidak boleh dijadikan acuan kalau kita tidak bisa sukses. Justru dari keprihatinan kita buktikan pada dunia kalau kesuksesan tidak dipengaruhi oleh kaya atau tidaknya orang tua, melainkan ilmu dan semangat tinggi yang kita miliki. Terbukti sosok M. Rikza Chamami yang dulu hanya sebagai anak penjual sandal bisa sukses menjadi dosen tetap dan sekretaris Lab. Pendidikan Fakultas Tarbiyah di IAIN Walisongo Semarang, bahkan kariernya melejit sebagai penulis di berbagai media cetak seperti di Suara Merdeka, Wawasan, Radar Kudus, Radar Semarang, Solo Pos , SKM Amanat, Edukasi, Newsletter Penyiaran Kita dll. Beliau juga banyak menerbitkan buku, seperti: Mengendalikan Syahwat Politik Kiai NU (2004);  Demi IPNU (2007); Pendidikan Kaum Sarungan (2009); Pendidikan Neomodernisme (2010); Inspirasi Spirit Isra’ Mi’raj (2010).

Senin, 22 April 2013

KEBERSIHAN MASIH MENJADI PR BERSAMA


KEBERSIHAN MASIH MENJADI PR BERSAMA

Ngaliyan, Selasa, 16/4 Rustam (47 tahun) seorang pekerja kebersihan yang setiap hari membersihkan lingkungan Fakultas Ushuluddin mengeluhkan kebersihan yang ada di lingkungan fakultas Ushuluddin. Ia berkata kebersihan di lingkungan fakultas ini masih kurang. “Setiap hari ada saja sampah yang harus saya bersihkan apalagi di saat musim penghujan tiba”, ujar lelaki paruh baya yang sudah mengabdi bekerja di Fakultas Ushuluddin sejak tahun 1992.
Saat ini salah satu permasalahan yang memang masih menjadi PR bersama di lingkungan fakultas Ushuluddin adalah tentang masalah kebersihan. Hal ini terlihat dengan banyaknya sampah daun gugur dan adanya sampah bungkus makanan yang masih ada disekitar lingkungan fakultas. Walaupun sudah setiap hari dibersihkan tetapi tetap saja masih banyak sampah yang berserakan. “Perlu adanya kerja sama antara pihak pekerja kebersihan dengan mahasiswa itu sendiri. Dengan adanya kerja sama ini diharapkan akan meningkatkan kenyamanan dan kebersihan di lingkungan fakultas, selain itu dapat menambah kejernihan berpikir bagi mahasiswa yang belajar disini,” tambah Rustam.
Hal senada juga diungkapkan Ita (22 tahun) salah satu mahasiswa Ushuluddin jurusan Tafsir Hadis semester 8. “Kerja sama itu memang perlu dilakukan karena setidaknya akan membuat lingkungan belajar kita menjadi aman dan nyaman.” Ujarnya. Saya masih melihat ada mahasiswa yang membuang sampah tidak pada tempatnya. Hal inilah yang sepatutnya menjadi perhatian kita semua. Seharusnya dari pihak fakultas sendiri memberikan sanksi bagi para mahasiswa yang tidak mengindahkan kebersihan seperti disuruh menyapu lingkungan atau hukuman lain yang membuat mereka jera, sehingga tidak akan ada lagi sampah yang berserakan di lingkungan.